Laman

Showing posts with label Ghibah. Show all posts
Showing posts with label Ghibah. Show all posts

Sunday, August 13, 2017

Fatwa MUI No. 24/ 2017, GHIBAH di Medsos Hukumnya HARAM



Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial (medsos). Salah satu isi dari fatwa tersebut yakni larangan ghibah di medsos karena hukumnya HARAM.
Ghibah adalah penyampaian informasi faktual tentang seseorang atau kelompok yang tidak disukainya. Bahasa universalnya, ghibah sama dengan gunjing. Tanpa sadar dan tak sadar, sikap itu sering kita lakukan sehari-hari.
Ketua MUI Ma'aruf Amin mengatakan ghibah di medsos juga sesuatu sikap yang perlu dihindari. Sebab, ghibah di dunia maya dan dunia nyata juga memiliki makna yang sama, yakni menggunjing.
Dalam fatwa MUI soal medsos ini memutuskan bahwa setiap umat muslim yang bermuamalah (bersosialisasi) antar individu atau kelompok melalui medsos dilarang untuk melakukan ghibah, fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhsan di ranah publik seperti Whatsapp, Twitter, Facebook, dan lainnya.

Dijelaskan secara tegas ketentuan hukumnya bagi yang melakuka ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusahan, khususnya di medsos.

- Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya HARAM.

- Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya HARAM.

- Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syar'i.

- Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya HARAM.

- Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya HARAM.

- Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya HARAM. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.


Sumber : Detik.Com




Monday, July 25, 2016

PAHALA BAGI ORANG YANG DIGHIBAH





Seseorang yang menjadi sasaran ghibah selalu mengalami hinaan, cacian, selalu diremehkan bahkan diadu domba dengan tujuan disingkirkan atau dibunuh karakternya. 

Ketahuilah bahwa orang yang dighibah selalu menerima pahala dari para  pengghibahnya. Semakin dighibah, pahalanya semakin bertambah. 
Semakin dighibah semakin bertambah banyak pahalanya tanpa melakukan kebaikan apapun. Oleh karena itu, selalu bersyukurlah jika ada yang mengghibahmu, karena pahala orang yang mengghibah berpindah kepadamu (kepada orang yang dighibah). 

Jika yang mengghibah tidak punya pahala maka dosa-dosa orang yang dighibah diambil oleh (berpindah kepada) orang yang mengghibahnya. Sehingga orang yang hidupnya selalu dighibah dan selalu bersyukur atas ghibah yang menimpanya maka ia semakin dimuliakan Allah SWT.

Bahkan di depan Allah kemuliaan orang yang selalu dighibah jauh berada di atas orang-orang yang hidupnya selalu mengghibah. Meskipun, ketika di dunia orang yang selalu mengghibah itu lebih tinggi jabatannya, nampak lebih berkecukupan materinya, terhormat kedudukannya, itu semua yang nampak di depan mata orang. Namun di depan Allah tidak demikian, semua sangatlah jauh berbeda. 

Allah tidak pernah lupa dengan kedzaliman yang dilakukan oleh setiap manusia.
Firman Allah : "Janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim". (QS. Ibrahim: 42)
Kedzaliman tidak akan pernah dilupakan Allah, meskipun manusia begitu mudah melupakannya.
Di hari kiamat, akan dilakukan hisab, dimana pahala orang yang mendzalimi akan diserahkan kepada orang yang didzalimi, hingga kedzaliman itu habis.
Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabat : “Tahukah kalian siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?”
Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai uang maupun harta benda.”

Kemudian Nabi Muhammad SAW menjelaskan,
“Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim 6744 & Ahmad 8029).

Simak hingga selesai video di bawah ini, ceramah dari Syekh Ali Jaber : Pahala Hilang karena membicarakan kejelekan orang lain. Pahala menuaikan haji seseorang menjadi hilang (berpindah/ dihadiahkan) kepada orang lain yang ia ghibah.

BAHAYA LIDAH.
Salah satu kisah yang diceramahkan Syekh Ali Jaber adalah : Ada seorang laki-laki akan menunaikan ibadah haji. Karena isterinya sedang hamil maka laki-laki tersebut menunaikan haji dengan adik perempuannya. Sedang isterinya di rumah.
Pada saat menunaikan haji, setelah melempar jumroh laki-laki tersebut berkata kepada adiknya : "Mari segera kita selesaikan melempar jumroh ini agar kita segera bisa pulang, karena aku sudah sangat rindu kepada isteriku". Kata adik perempuannya : "Apa yang kamu rindukan sama dia, pendek dan tidak cantik".  Mendengar kata-kata adiknya, laki-laki tersebut hanya diam.

Kemudian ketika isteri laki-laki tersebut sedang tidur di rumah, dia bermimpi menunaikan ibadah haji. Lalu isterinya menanyakan hal mimpinya tersebut kepada ulama supaya ditafsirkan mimpinya.
Ulama itu bertanya : "Coba tanya kepada suami kamu, dengan siapa dia menunaikan ibadah hajinya".
Isteri laki-laki tersebut menjawab : "Suamiku pergi berhaji dengan adik perempuannya".
Ulama itu berkata :"Ada kata yang telah diucapkan adik perempuan suamimu yang mengakibatkan IBADAH HAJInya dihadiahkan untukmu".
Mengapa ibadah haji yang dikerjakan adik perempuan laki-laki tersebut , pahalanya untuk isteri laki-laki yang sedang hamil di rumah? Karena adik perempuan laki-laki tersebut telah berbicara tentang kejelekan isteri laki-laki itu. Adik laki-laki itu telah mengatakan : "Apa yang kau rindukan dari dia, pendek dan tidak cantik".
Maka pahala ibadah haji yang dikerjakan adik perempuan laki-laki itu dihadiahkan untuk isteri laki-laki yang sedang tidur di rumah.

Itulah bahaya lidah, bisa menghilangkan semua pahala kebaikan yang dimiliki.
Simak video Syekh Ali Jaber di bawah ini.




Ghibah Termasuk Kedzaliman

Allah menyebut ghibah dalam al-Quran sebagai perbuatan makan bangkai sesama muslim.
Allah berfirman : “Janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS. al-Hujurat: 12)
Karena itu, para ulama memahami, kedzaliman ghibah akan berlanjut di akhirat. Dimana orang yang dighibah akan diberi pahala dari orang yang meng-ghibahnya. Sehingga ghibah mengurangi pahala seseorang. Sebaliknya, orang yang dighibah akan semakin bertambah pahalanya.
Beberapa keterangan ulama mengenai konsekuensi ghibah:
1. Ulama Tabi’in Hasan al-Bashri : “Demi Allah, ghibah lebih cepat menggerogoti agama seorang mukmin dibandingkan orang yang makan badannya.” (as-Shumt, Ibnu Abi Dunya, hlm. 129)

2.    Ulama Fudhail bin Iyadh : “Ada orang yang mengatakan kepada Fudhail, ‘Si A telah meng-ghibahku.’

Lalu Fudhail bin Iyadh mengatakan, : "Berarti dia telah memberikan pahala untukmu". (Hilyah al-Auliya, 8/108)

3.    Ulama Abdurrahman bin Mahdi
“Andaikan bukan karena benci maksiat kepada Allah, (maka aku akan lakukan maksiat), dan sungguh aku ber-angan-angan andaikan semua penduduk kota ini meng-ghibahku. Tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan melebihi orang yang melihat pahala yang tertulis di catatan amalnya, sementara dia tidak pernah mengamalkannya.” (HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5/305)

4.    Ulama Abdullah bin Mubarak
“Andai saya boleh meng-ghibah orang lain, tentu saya akan meng-ghibah kedua orang tuaku. Karena mereka yang paling berhak untuk mendapatkan pahala dariku”.

Abdullah bin Mubarak pernah berdiskusi dengan Sufyan at-Tsauri tentang Abu Hanifah :
“Sungguh Abu Hanifah sangat menghindari ghibah. Belum pernah aku mendengar beliau meng-ghibah seseorang meskipun musuhnya”.
Lalu Sufyan mengatakan : “Demi Allah, beliau sangat menyadari sehingga jangan sampai pahalanya hilang”. (Manaqib Abu Hanifah, 1/190)

Sunday, July 24, 2016

Jaminan (Pilihan) Pelaku Ghibah dan Fitnah




Orang yang dighibah (pasti) mendapat TRANSFER PAHALA dari orang yang mengghibahnya tanpa harus melakukan kebaikan. 

Jangan lupa Simak Video Tauziah KH. Zainudin MZ di bawah.

(Wiro's, 24 Juli 2016). Dalam diri pelaku ghibah pasti dipenuhi dan dikuasai energi dan aura negatif yang semakin hari semakin bertambah karena ghibah, fitnah, hasut dan adu domba yang dilakukan terhadap orang lain. 

Abu Hurairah radliallahu ‘anhu (wafat th. 57 H)  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang pernah melakukan kedzhaliman (baik dengan perkataan ataupun perbuatan) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (berupa pema’afan) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat lagi dinar dan dirham. 
Jika dia enggan untuk melakukannya maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kedzaliman yang pernah dilakukannya (kepada yang didzaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang didzalimi itu akan diambil lalu dibebankan kepadanya”.(HR. Bukhari no. 2449)


Pahala kebaikan (amal) atau amal ibadah yang dimiliki "pasti hancur" karena perilakunya sendiri (ghibah, fitnah, hasut dan adu domba).
Jangan bangga karena merasa sudah melakukan ibadah shalat, puasa, haji maupun ibadah-ibadah lain. Semua "tidak membuahkan hasil apa-apa", karena rajin melakukan ghibah (menyebarkan aib orang lain).
 Ghibah kata Imam An-Nawawi rahimahullah adalah menyebutkan kejelekan orang lain di saat ia tidak ada saat pembicaraan. (Syarh Shahih Muslim, 16: 129).
Seberapa Rendah engkau memandang dan menilai seseorang, serendah itu pula hakikat nilai dirimu. Karena tanda kemuliaan seseorang adalah dengan tidak memandang rendah kepada makhluk Allah. 
(Habib Jindan Novel Jindan)
Banyak yang nekat melakukan ghibah hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi yang bersifat sesaat (duniawi) dan mengesampingkan kepentingan akhirat.
Pelaku ghibah merasa lebih pantas, merasa lebih terhormat, merasa lebih mulia, merasa lebih berjasa akhirnya meremehkan orang lain dengan cara menghibah bersama orang-orang yang sepaham (segolongan) untuk melakukan ghibah. Allah mengumpulkan mereka (pelaku ghibah) dalam satu kelompok atau satu golongan.

Ketahuilah bahwa makhluk Allah yang merasa dirinya lebih mulia dari manusia (Nabi Adam) hanyalah Iblis, maka jika ada manusia yang merasa lebih terhormat dan lebih mulia dari manusia lain itu sudah jelas bahwa hati dan dirinya sudah dikuasai oleh Iblis.

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu AKU menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. (Q.S. Al-A’raf : 12).


Hukum Ghibah
Hukum ghibah itu diharamkan berdasarkan kata sepakat ulama. Ghibah termasuk dosa besar. Masalah ghibah kelihatannya adalah masalah yang sepele dan ringan, akan tetapi sebenarnya masalah ini adalah masalah yang sangat berat karena menyangkut kehormatan seseorang. Apalagi kalau yang dighibahkan adalah saudara Muslim kamu sendiri yang mana kehormatan seseorang muslim sangat dijaga. 
Hadits Nabi shollallohu alaihi wasallam

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِيَّاكُمْ وَالْغَيْبَةَ ، فَإِنَّ الْغَيْبَةَ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا " . قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ الْغَيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا ؟ قَالَ : " الرَّجُلُ يَزْنِي فَيَتُوبُ ، فَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْغَيْبَةِ لا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ " .
رواه الطبراني في الأوسط وفيه عباد بن كثير الثقفي وهو متروك
Dari Jabir bin Abdillah dan Abi Sa'id Al-khudri keduanya berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Takutlah kamu semua terhadap ghibah karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dosanya daripada berzina ".
Ghibah termasuk perbuatan yang sangat buruk, haram dan dosa besar.
Sebagaimana yang dikatakan Imam An-Nawawi rahimahullah sebagai berikut:
“Ketahuilah, bahwasanya ghibah adalah seburuk-buruknya hal yang buruk, dan ghibah merupakan keburukan yang paling tersebar pada manusia, sehingga tidak ada yang selamat dari ghibah ini kecuali hanya segelintir manusia”. (Tuhfatul Ahwadzi, 63)

Selain itu Imam Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar juga mengatakan bahwa:
”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya.”

Akibat Ghibah
1. Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikannya dia berikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya  (jika pelaku ghibah punya pahala). Apabila pelaku ghibah tidak punya pahala maka dosa sebesar 30 kali dosa berzina (1 kali ghibah) akan berpindah otomatis dari orang yang dighibah kepada pelaku ghibah.

Pelaku ghibah selalu merasa bahwa dirinya paling baik, paling suci, paling benar dan paling-paling yang lain. Pelaku ghibah dengan sangat congkak dan sombong melakukan ghibah, seakan dialah yang paling baik.

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk nerakaMereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Pelaku ghibah tidak sadar bahwa melakukan ghibah adalah hukumnya haram dan berdosa besar.
Tidak sadar dengan melakukan ghibah berarti menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kubangan dosa yang sangat besar, ke dalam neraka.
Dalam 1 (satu) kali melakukan ghibah dosanya sebesar 30 kali dosa berzina (Kitab Bidayatul Hidayah (Terjemahan) halaman 19-20 yang ditulis Imam al Ghazali r.a)

Analogi : Jika seorang Penjaja Sex Komersial (PSK) melakukan pekerjaannya, dia memperoleh dosa zina 1 (satu) kali. Sedangkan orang yang melakukan ghibah, hanya  dengan satu kali ghibah, pelaku ghibah memperoleh dosa sebanyak 30 kali dosa zina. Pelaku ghibah sangat lebih kotor dan berdosa besar dari pada seorang PSK. Pelaku ghibah dosanya lebih besar dari orang yang dighibah. Tidak mungkin pelaku ghibah hanya satu kali melakukan ghibah. Pasti berulang-ulang kali. Masihkah seorang pengghibah merasa suci? Na'udzubillahi min dzalik.


Orang yang telah melakukan ghibah tidak akan pernah mau (=tidak berani) meminta ma'af kepada yang dighibah. Sehingga dosa-dosanya kepada orang yang dighibah TIDAK AKAN PERNAH TERMA'AFKAN dan TIDAK AKAN PERNAH TERAMPUNI. Dosa-dosa tersebut dibawa sampai dia menemui ajalnya, hingga ke akhirat. Bagaimana Allah akan mengampuni, sedangkan dia sendiri (pelaku ghibah) tidak mau minta ma'af atau minta ampun kepada yang dighibah. Nerakalah jaminan bagi pelaku ghibah. Na'udzubullahi min dzalik.
Pelaku ghibah dalam kehidupannya selalu dihantui rasa hati yang tidak tentram, selalu curiga, selalu tidak percaya, selalu meremehkan orang lain, selalu menganggap orang lain lebih hina dan semakin lama hati pelaku ghibah semakin membatu.
Firman Alloh : "Kemudian hati kalian mengeras setelah itu bagaikan batu atau lebih keras lagi". (QS. Al Baqoroh : 74)

Meskipun pelaku ghibah sudah diberi peringatan oleh Allah, karena hatinya sudah keras, tidak dapat mengambil hikmah atau pelajaran. Bahkan banyak yang justeru menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpa dirinya.

Dihadapan orang yang dighibah, pelaku ghibah mulutnya manis, pura-pura baik. Itulah jiwa pengkhianat.

Orang yang selalu dighibah, setiap hari, setiap waktu pasti dan pasti mendapat transfer pahala kebaikan dari pelaku ghibah tanpa harus berbuat kebaikan (Jika yang mengghibah punya pahala). Orang yang dighibah, setiap kali dighibah dosa-dosanya semakin berkurang dan terus berkurang. Setiap kali berkurang sebesar 30 kali dosa zina dan dosa-dosa itu berpindah kepada yang mengghibah.

Di hadapan Allah, orang yang dighibah, kedudukannya semakin baik dan Allah SWT menjanjikan tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang selalu dighibah dan sabar.

2. Mengakibatkan putusnya ukhuwah, rusaknya kasih sayang, timbulnya permusuhan, tersebarnya aib, lahirnya kehinaan dan timbulnya keinginan untuk menyebarkan berita keburukan orang lain.
          Ustad Buya Yahya tentang Menggunjing dan Memfitnah
Simak Video "Perkara yang Menghancurkan Pahala Shalat, Puasa, Haji" di bawah ini hingga selesai atau simak di you tube klik/ ketuk di sini



Jika orang yang dighibah : 
3. Orang yang beriman, pasti ikhlas, bersyukur dan diam. Selalu berserah diri dan menyerahkan segalanya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Ia percaya dan yakin bahwa orang yang mengghibah dirinya sudah DIURUS oleh Allah SWT. Amin.

Pelaku ghibah PASTI menerima akibat perbuatannya yaitu segala amal baik (ibadahnya) pasti hancur, pahala yang dimiliki pelaku ghibah berpindah secara otomatis kepada yang dighibah dan atau dosa-dosa orang yang dighibah berpindah otomatis kepada pelaku ghibah (sebesar 30 x dosa zina tiap 1 kali ghibah).

Pelaku ghibah jika terus melakukan ghibah pasti juga melakukan fitnah yang mengarah pada menghasut (adu domba) karena saat menggibah pasti menghasut kepada pihak-pihak (orang) yang bisa dihasut dan dianggap mempunyai hubungan dengan hal-hal yang digunakan sebagai bahan ghibah dan fitnah. Sehingga pihak (orang) yang dihasut tidak menyukai bahkan akan memusuhi kepada orang yang dighibah.
Adu domba merupakan suatu perbuatan rekayasa yang sengaja dilakukan untuk merusak, memfitnah, atau menghancurkan orang lain serta merupakan pemicu terjadinya permusuhan. Ini merupakan perbuatan tercela. Menghasut (adu domba) hukumnya haram.
Firman Allah : ”Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam : 10-11)

Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q. S. Al-Hujurat : 6).

Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan adu domba, berarti ia telah melakukan apa yang telah dilarang oleh Allah SWT dan telah berbuat dosa, maka nerakalah baginya sebagai balasan. 
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya; “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (H. R. Al Bukhari).

Pelaku ghibah sangat sulit disatukan dengan orang yang dia ghibah, karena dalam hati pelaku ghibah ada rasa congkak dan sombong. Ghibah yang dia lakukan merupakan ungkapan isi hatinya untuk menghina sekaligus membenci orang. Orang yang membenci (dengan melakukan ghibah dan fitnah) akan terputus. Terputus silaturrahminya, terputus keberkahannya, terputus hidayahnya.
"Sesungguhnya ORANG-ORANG yang Membenci kamu dialah yang TERPUTUS". 
(QS Al Kausar : 3)

3. Mendapat azab Allah SWT yang sangat pedih

Sebenarnya kasihan karena pelaku ghibah pasti mendapatkan TRANSFER DOSA dari orang yang dighibah sebesar 30 kali dosa zina setiap kali melakukan ghibah. Tinggal menghitung, sudah berapa kali ghibah yang dia lakukan. Pasti pelaku ghibah semakin berlumuran dosa dan dosa itu tidak akan TERMA'AFKAN, karena pelaku ghibah orangnya sombong sehingga malu dan tidak berani minta ma'af kepada orang yang dighibah. Dosa itu pasti dibawa sampai mati dan hingga di akhirat. Akhirnya dosa tersebut menjadi PENGHALANG MASUK SURGA. Na'udzubillahi mindzalik.

Menurut Imam al Ghazali, dosa ghibah adalah lebih keji dari pada perbuatan zina yang dilakukan hingga 30 kali dan jaminannya sudah pasti neraka. Menggunjing orang lain adalah sama halnya dengan menginjak-injak martabat, kehormatan dan harga diri orang lain. Apabila Anda digunjing orang lain, sudah pasti Anda tidak akan menerimanya terlebih apabila gunjingan itu tidak sesuai dengan kenyataannya.

Ghibah pada dasarnya adalah menjelek-jelekkan orang lain, membicarakan keburukan orang lain, menyebarkan keburukan orang lain, mencemarkan nama baik orang lain. Ghibah ini merupakan perbuatan yang mencemarkan nama baik. Mencemarkan nama baik orang lain dapat dikenakan sangsi hukum (dituntut hukuman) sehingga pelaku ghibah dapat masuk penjara.


“Pencemaran nama baik” yang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) dikenal sebagai “penghinaan”.


R Soesilo dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal 225) dalam penjelasan Pasal 310 KUHP, menerangkan bahwa, “menghina” adalah “menyerang kehormatan dan nama baik seseorang”. Yang diserang ini biasanya merasa “malu” “Kehormatan” yang diserang di sini hanya mengenai kehormatan tentang “nama baik”, bukan “kehormatan” dalam lapangan seksuil, kehormatan yang dapat dicemarkan karena tersinggung anggota kemaluannya dalam lingkungan nafsu birahi kelamin. (Baca selengkapnya di : Perbuatan yang Termasuk Pencemaran Nama Baik).


Saudaraku.....

Diam, sabar dan bersyukurlah ketika ada orang yang mengghibahmu karena dengan demikian pahala kebaikan pasti akan mengalir kepadamu tanpa harus melakukan kebaikan. Amin.





Orang- orang Pembawa Berkah



UJI KEPEKAAN
Pilih Salah satu sesuai hati, lalu KETUK Salah Satu Tombol "UNDUH" di bawah ini.
Kemudian lihat hasil Unduhannya.

Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh

Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh  Unduh


Perjalanan Hidup Yang Singkat. Apa yang telah kau siapkan? Taubat tak lagi berguna.