BAGONG MEMBANGUN DESA MENATA KOTA
KI LURAH SEMAR DILUPAKAN OLEH NGAMARTA
(Andaka Murti alias Bagong Ngobrak-abrik
Kahyangan dan Kerajaan Ngamarta)
Cuplikan ini ditulis oleh Ismail Wiroprojo
Ki Lurah Semar adalah salah satu yang ikut
merintis dan mendirikan kerajaan Ngamarta juga merupakan salah satu sosok yang
mampu memberikan energi positif kepada kerajaan Ngamarta sehingga rakyat dan
punggawa kerajaan Ngamarta hidup dalam kedamaian dan ketentraman. Ngamarta
berkembang dengan damai dan tentram. Gemah ripah loh jinawi, ayem tentrem kerta
raharja.
Keadaan dan situasi Ngamarta yang demikian
menjadikan para punggawa kerajaan lupa kepada sosok Ki Semar yang telah
mendukung sepenuhnya, lahir batin untuk keamanan dan ketentraman Ngamarta.
Entah karena sibuk atau telah lupa terhadap Ki
Lurah Semar, para punggawa kerajaan, satupun tidak ada yang datang ke rumah Ki Lurah
Semar di desa Karang Kedhempel. Ki Lurah
Semar merasa sudah dilupakan oleh para punggawa kerajaan Ngamarta.
Akhirnya Ki Lurah Semar meninggalkan rumahnya,
pergi meninggalkan desa tempat tinggalnya Karang Kedhempel, tanpa memberi tahu
(pamit) kepada siapapun, termasuk anak-anaknya, Gareng, Petruk dan Bagong.
Entah apa yang berkecamuk di dalam pikiran dan hati Ki Lurah Semar.
Setelah beberapa lama Ki Lurah Semar meninggalkan
rumahnya di desa Karang Kedhempel akhirnya Bagong kebingungan mencari Bapaknya.
Setelah dicari kemana-mana, Bagong tidak
menemukan Bapaknya, Ki Lurah Semar. Bagong memutuskan untuk mencari tahu
keberadaan Bapaknya dengan melakukan tapa brata di tengah hutan di pegunungan
Mahameru. Dengan tekad dan hati yang
bulat Bagong menjalani tapanya, meminta kepada Yang Maha Kuasa supaya
ditunjukkan keberadaan bapaknya Ki Lurah Semar.
Selain Bagong, Gareng dan Petrukpun bingung
karena bapaknya tidak ada. Gareng dan Petruk juga meninggalkan desa Karang
Kedhempel untuk mencari Ki Lurah Semar.
Desa Karang Kedhempel tidak ada orang sakti yang
mampu menjaga karena Ki Lurah Semar pergi, Bagong pergi, Gareng dan Petruk juga
pergi.
Setelah beberapa lama Bagong bertapa, satupun tidak
ada petunjuk keberadaan Bapaknya. Belum juga mendapat petunjuk dari Yang Maha
Kuasa, ketika Bagong melakukan tapa brata, banyak dewa yang mendatangi Bagong
di tempat bertapa. Bethara Indra,
Bethara Brama, Bethara Yamadipati, Bethara Narada hingga Bethara Guru.
Dewa-dewa yang datang menemui Bagong, meminta
kepada Bagong supaya menghentikan tapa bratanya. Karena energi tapa brata
Bagong sampai di jagat para dewa dan sangat mengganggu kehidupan jagat para dewa.
Setiap dewa yang datang, seketika itu pula
Bagong bertanya dimana keberadaan Bapaknya Ki Semar. Tetapi tak satupun dewa ada
yang tahu keberadaan Ki Semar.
Meskipun para dewa tidak bisa memberikan
petunjuk tetapi dewa-dewa tersebut tetap memaksa kepada Bagong supaya
menghentikan tapa bratanya. Bagong tetap bersikukuh tidak mau berhenti bertapa.
Maka terjadilah peperangan antara Bagong
dengan para dewa yang memaksa Bagong untuk berhenti bertapa. Dalam peperangan
tersebut tak satupun dewa ada yang menang melawan Bagong kecuali Bethara Guru.
Bethara Indra kalah, Bethara Brama kalah, Yamadipati kalah. Bethara Narada
mundur dan melaporkan kepada Bethara Guru.
Bagong mengalahkan para Dewa
Bagong melawan Bethara Guru. Bagong kalah terkena
pusaka Guntur Geni Guntur Angin. Dhuuuaarrr..... Bagong kena pusaka Guntur Geni
Guntur Angin. Bagong terlempar .... Jauh ......
Bagong Terkena Guntur Geni Guntur Angin
Bagong Terkena Guntur Geni Guntur Angin
Keadaan yang demikian dimanfaatkan oleh Bethari Durga. Bethari Durga meminta ijin kepada Bethara Guru untuk memangsa seluruh penduduk di desa Karang Kedhempel. Kemudian Bethari Durga memanggil anak-anaknya. Dikatakan bahwa desa Karang Kedhempel sekarang tidak ada yang menjaga, karena Ki Semar, Gareng, Petruk dan Bagong pergi meninggalkan desa. Beramai-ramailah anak-anak Bethari Durga menuju desa Karang Kedhempel dan memangsa penduduknya juga mengobrak-abrik desa.
Bagong terlempar jauh hingga di tengah hutan
Terlemparnya Bagong jatuh di suatu tempat,
masuk ke jurang yang berada di tengah hutan dalam keadaan terluka sangat parah
tak sadarkan diri. Bagong ditemukan oleh
Andaka Dewa dalam keadaan terluka parah dan hampir mati. Andaka Dewa ini
berwujud Bantheng yang sakti. Bagong ditolong oleh Andaka Dewa dan bisa sembuh,
sehat seperti sedia kala.
Setelah sembuh dari luka, Bagong ditanya
Andaka Dewa tentang siapa dirinya? Dari mana asalnya? Mau kemana? Apa tujuan
perginya? (Sebenarnya Andaka Dewa sudah mengetahui semua).
Andaka Dewa memberikan petunjuk kepada Bagong
agar dalam pencarian bapaknya pergi ke kerajaan Ngamarta dan menanyakan
keberadaan bapaknya kepada para punggawa kerajaan. Bagong diperintahkan untuk
memaksa dan berani melawan para punggawa kerajaan Ngamarta yang tidak bisa
memberi tahu keberadaan bapaknya.
Sebelum pergi menuju kerajaan Ngamarta, oleh
Andaka Dewa, Bagong dirubah wujudnya menjadi sosok dengan nama baru Andaka
Murti. Bagong berubah menjadi Andaka Murti dan memiliki kesaktian yang sangat
luar biasa.
Setelah semuanya selesai berangkatlah Andaka
Murti yang sakti menuju kerajaan Ngamarta. Sang Andaka Dewa mengikuti langkah
Andaka Murti dari kejauhan.
Sesampainya di Ngamarta, Andaka Murti alias
Bagong yang sakti mengobrak-abrik semua yang dijumpainya. Menghajar semua yang
berani menghentikannya dan tak satupun ada yang mampu mengalahkan Andaka Murti.
Andaka Murti Mengalahkan Pendawa
Sang Arjuna dan Werkudara sebagai kesatria
Ngamarta-pun tak mampu mengalahkan Andaka Murti. Arjuna dan Werkudara kalah
perang melawan Andaka Murti alias Bagong.
Setelah Andaka Murti mengalahkan Arjuna dan Werkudara,
bertemulah dengan Kresna. Andaka Murti tetap berani melawan Kresna. Andaka
Murtipun menanyakan keberadaan bapaknya kepada Kresna. Jika tak mampu memberi
tahu maka Kresna akan dihajar.
Dari kejauhan Andaka Dewa tetap memperhatikan
gerak-gerik Andaka Murti, yang akan membantunya jika Andaka Murti megalami
kekalahan.
Keberanian Andaka Murti memuncak setelah
Kresna juga tak mampu menjelaskan keberadaan Ki Lurah Semar. Nyaris ada
peperangan, Andaka Murti melawan Kresna. Tetapi Kresna memilih mundur karena
Kresna mengetahui yang sebenarnya, siapa Andaka Murti itu. Maka dipanggilah
Petruk dan Gareng untuk menghadapi Andaka Murti.
Andaka Murti berubah menjadi Bagong
Karena Andaka Murti tidak bisa berperang
melawan Petruk dan Gareng, tak tega jika harus menghajar saudaranya sendiri
maka lilihlah hati Andaka Murti dan munculah Andaka Murti yang sebenarnya.
Sosok Bagong muncul kembali.
Setelah Andaka Murti berubah wujud aslinya
menjadi Bagong, maka bertemulah dia dengan Kresna dan mengatakan bahwa dia
berubah wujud atas perintah Andaka Dewa.
Kresna melihat dari kejauhan, siapa sebenarnya
Andaka Dewa itu yang nampak sebagai seekor banteng. Alangkah terkejutnya
setelah Kresna tahu di dalam tubuh Andaka Dewa.
Mengetahui siapa Andaka Dewa, maka Kresna
menyuruh Petruk untuk memanggil sang Ratu Ngamarta, Prabu Puntadewa agar menghadapi
Andaka Dewa.
Andaka Dewa berubah menjadi Ki Lurah Semar
Petruk segera berangkat menemui Puntadewa dan
menggendong menemui Andaka Dewa.
Segera Puntadewa bertanya pada Andaka Dewa.
Puntadewo : “Kamu siapa?”
Andaka Dewa : “Aku Andaka Dewa.
Puntadewo : “Andaka Dewa?”. Tujannya apa?”
Andaka Dewa : “Mengingatkan kepada Pendawa.
Karena Pendawa kehilangan pamomong, maka Pendawa harus mencari keberadaan Ki
Lurah Semar Bodronoyo”.
Puntadewa : “Tidak usah jauh-jauh Pandawa
mencari Kakang Semar. Kakang Semar saya mohon jujur saja jika sudah bosan mengasuh
para Pandawa. Puntadewa juga tidak akan hidup di dunia ini Kakang Nayantaka”.
Karena keberadaan Andaka Dewa sudah diketahui
prabu Puntadewa maka berubahlah wujud Andaka Dewa itu menjadi wujud aslinya
yaitu Ki Lurah Semar Bodronoyo.
Dan bergembiralah anak-anak Ki Lurah Semar
Bodronoyo, Gareng, Petruk dan terutama Bagong karena Bapaknya sudah ditemukan.
Gareng : “Kenapa pergi?”
Jawab Semar : “He he he ya hanya mencoba
bendaramu kuwi masih tresna apa gak”.
Puntadewa : “Kakang Semar, jika demikian Pendawa
akan ke Karang Kedhempel. Membantu Kakang Semar dan Bagong membangun desa dan
kota di Karang Kedhempel”.
Setelah sampai di Karang Kedhempel para
Pendawa terkejut melihat Karang Kedhempel sudah berantakan, porak poranda.
Werkudoro sudah hafal bahwa keadaan Karang Kedhempel
seperti itu adalah ulah Bethari Durga dengan anak-anaknya juga bala tentaranya.
Werkudoro mengusir anak-anak Bethari Durga
dari Karang Kedhempel.
Bethari Durga meminta ma’af kepada Ki Lurah
Semar.
Bethari Durga : ”Kakang Semar, saya minta
ma’af”.
Ki Lurah Semar : ”Hayo, anak-anakmu, bala
tentaramu suruh pergi. Heee, para jin, setan, bergangsaan, ilu-ilu banaspati
mengganggu sedulur-dulurku yang bertempat tinggal di sini, yang sudah bersatu,
manunggal. Akan kamu buat pisah-pisah, akan kamu buat pecah, bercerai berai.
Ketahuan Semar pasti ku Kumbala Geni”.
Bethari Durga : “Permisi Kakang Semar”.
Ki Lurah Semar : “Hati-hati, ayo anak-anakmu
dan bala tentaramu diajak pulang semua”.
Bethari Durga : “Iya Kakang Semar”.
Setelah Bethari Durga beserta anak-anak dan
bala tentaranya pergi, Karang Kedhempel dibangun Bagong. Bagong bangun desa
menata kota dibantu apara Pendawa.